di tempat ini.. di saat itu.

kutendang motor butut ku, grenggg… motor pelan-pelan meninggalkan kota malang.
pukul 9, cahaya matahari sangat cerah, namun dinginnya udara kota ini berusaha mendinginkan semangatku.  pagi ini suasana jalan cukup ramai. motor tua,merupakan motorku satu-satunya, dan itupula warisan, yang hanya berselisih 3 tahun dengan umurku itu masih meliuk-liuk diantara jalan
yang berkelok, sesekali atau malah seringkali mengalah dengan motor yang lebih muda. hahaha…
perjalanan yang biasanya ditempuh 1 hingga 1,5 jam ini harus aku tempuh 2 jam lebih. karena aku membutuhkan lebih banyak waktu untuk menikmati tiap belokan, tiap hembusan angin, dan hangatnya sinar mentari di hari jum’at ini.dan sesekali meluruskan pinggang pengemudinya yang tidak kalah tua.🙂 sadar umur. hi..hi..

entah ini yang keberapa kali aku pergi ke tempat yang sama ketika aku sedang membutuhkan sedikit ruang untuk sendiri menyendiri dan tak ada yang mengganggu. setelah beberapa hari, keberangkatan ku sempat tertunda. sebuah tampat yang bisa menghentikan waktu barang sebentar.

perjalanan ini tidak ada yang istimewa, sama seperti perjalanan ku sebelumnya. namun yang istimewa adalah tempat yang kutuju. ya, sebuah tempat yang menyimpan sejuta, bermilyar, dan bertrilyun memori yang aku titipkan di tempat itu. mungkin biasa bagi semua orang, namun komposisi tempat, memori dan orang yang tepat akan menghasilkan sebuah perasaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. halah …
sebuah tempat mempunyai peranan penting bagi tiap orang.entah itu ranjang bidan, ketika manusia itu merasakan dunia untuk pertamakalinya, entah tempat membahagiakan
kursi pelaminan, entah apa pun tempat itu, menyimpan memori untuk setiap orang yang berkunjung.
 
jalan mulai ramai dengan aktifitas orang ke pasar, dan tampak dikejauhan empat cerobong asap pabrik gula mengeluarkan asap pekat hitamnya. “sebentar lagi 200 meter lagi aku akan sampai di tempat itu”.

jalan di depan tempat itu mulai ramai dengan lalu lalang orang. tempat ini tak seramai dulu, sekarang tempat ini ramai, dan lebih tersohor.

gerbang berhiaskan batu alam itu menyambut setiap orang yang datang. kuletakkan motor 21tahun ini di pojokan parkir yang teduh. bergegas aku menuju tempat seorang teman lama.

aku melihat wajah-wajah anak kecil, duduk sendiri di teras dengan tatapan kosong. aku merasakan apa yang mereka rasakan karena aku pernah mengalami apa yang mereka alami sekarang ini. tapi entah apa apa yang mereka pikirkan saat ini. aku tersenyum dalam hati, bangga, salut dan terenyuh untuk mereka!

aku langsung masuk ke dalam kamar, melepas jaket, sarung tangan dan sekaligus menitipkan tas.
selesai bersuci, aku segera mencari tempat untuk duduk yang mulai penuh. tempat ini langsung menyihirku dengan auranya. teras ini mulai penuh dengan orang berbaju serba putih.

aku memejamkan mata, dan entah kenapa waktu kurasakan benar-benar berhenti. hanya ada aku dan kesunyian di tempat itu.
tak terasa air mata menetes.

Image
——–
bis 3/4 warna biru itu berlari ke arah selatan, di dalam bis itu, dan duduk disalah satu bangku itu terdapat sosok anak laki-laki kecil yang belum berumur 10 tahun, dengan seorang pria tua di sampingnya, yang disebutnya sebagai bapak. bis itu berhenti di depan sebuah pasar. anak kecil itu turun disusul bapaknya. anak itu berjalan tak jauh di belakang bapaknya. bapak anak kecil itu berhenti di depan sebuah toko, dan bertanya kepada seorang ibu-ibu, entah apa yang di ucapkan. tapi sepertinya menanyakan arah, karena ibu-ibu itu tadi menunjuk sebuah arah dan di ikuti anggukan bapak itu.

bapak itu segera meraih tangan anak kecil tersebut sambil berbicara entah apa. setelah berjalan 200meter bapak dan anak kecil tersebut masuk sebuah tempat yang cukup luas, namun tempat itu sepi, hanya sesekali anak muda, laki-laki bersarung lalu lalang. pohon ketapang yang besar dan teduh menyambut dua sosok yang datang dari tempat yang jauh itu. bapak dan anak itu langsung menuju sebuah teras luas, dengan atap asbes. dan langsung duduk di salah satu anak tangga sambil beristirahat.
anak itu masih tertegun, melihat sekelilingnya karena ini pertama kali dia datang di tempat asing tersebut.
sedang bapak anak kecil itu tampak meluruskan kaki sambil mengusap-usap kepala anak kecil tersebut.

di dalam hatinya dia merasa tempat ini teduh, tenang, dan nyaman. anak kecil itu duduk diam sambil mengatur nafas karena letih perjalanan.tak lama seorang laki-laki dewasa melintas di depan kedua orang itu, melepas sandal, dan mengambilnya.lalu bergegas menuju sebuah bangunan tak jauh disamping dua orang tersebut.kedua sosok itu tak henti mengamati seorang pemuda yang melintas di depan mereka, hingga pemuda itu hilang di balik tembok.

“kuwi lo, sandale mas-e di gowo mlebu kamar. ora di tinggal ning kono”
“ngko nek awkmu ning kene, yo koyok ngono.”
anak kecil itu hanya diam, tak menjawab.
“piye? enak to tempatnya? ning kene?”
“nggih pak.” anak kecil itu hanya meng-iyakan apa kata bapaknya.
ada senyum di wajah bapak anak kecil itu.
di tempat inilah, anak kecil itu akan memulai hidup barunya.
di dusun sebelah selatan kota jombang ini, anak itu pergi dari rumah.

——–
iya, akulah anak laki-laki kecil itu. iya, di tempat inilah berapa belas tahun lalu anak kecil ingusan untuk
pertamakalinya duduk diteras ini dengan seorang bapaknya. dan saat ini setelah sekian lama, dan untuk
yang kesekian kalinya, anak kecil itu datang untuk memutar memori itu, di tempat ini. dan air mata ini tak bisa kubendung, hidung ini mulai berair. sungguh aku seperti anak laki-laki kecil menangis sesenggukan mengingat saat itu. mengingat sebuah adegan masa lalu.

andaikan aku bisa kembali ke saat itu, anak kecil itu akan memeluk erat tubuh bapaknya, sambil menangis sesenggukan di pelukannya seperti sekarang ini. aku merindukan saat itu, dan terlebih lagi aku merindukan sosok laki-laki yang duduk di sebelah anak kecil itu. ingin sekali memegang tangannya dan mencium telapak tangannya.

namun, aku hanya bisa membayangkan senyum itu sambil merenung.
aku tidak bisa memeluk sosok laki-laki itu lagi. aku hanya bisa memeluknya lewat doa yang kutitipkan pada Tuhan untuk seorang laki-laki tersebut.. sambil merasakan sosok itu hadir disamping anak laki-laki yang menangis sesenggukan ini, sambil tersenyum.

Tuhan lebih sayang sosok itu dari pada, sayang anak kecil itu kepada bapaknya. pun ketika tombol keyboard ditekan, anak kecil itu masih menahan tangisnya.

Ya Allah, aku titip bapakku padamu.. dan sampaikan salam ku, salam dari seorang anak kecil yang merindukannya.
 

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s