sego kucing

dinginnya malam kota malang tak sedingin hatiku malam ini, entah rasa apa yang tengah berkecamuk meledakkan hatiku. ketika saya mencari sebuah penawar ledakan hatiku, tampak sebuah gerobak dorong dengan terpal biru tampak di pinggir jalan. hanya dengan temaram lampu minyak. sederhana. gelap. tidak menarik, tersembunyi.  orang biasa menyebutnya angkringan. sebuah tempat yang tidak menawarkan kemewahan apapun kepada siapa saja yang berkunjung.

dan hanya mereka yang mau menanggalkan kemewahan yang sudi berkunjung. dan bagi mereka yang muak kepada cahaya gemerlap lampu kemewahan. karena tidak ada sesuatu yang spesial yang ditwarkan kepada anda. mungkin karena ketidak-adaannya itulah angkringan menjadi ada. karena sederhana itulah angkringan menjadi tidak sederhana.

sego kucing, entah kenapa di sebut sego kucing. karena porsinya? karena lauknya? atau karena yang makan? entahlah, tidak penting. sebuah bungkus kecil dengan bngkus daun pisang, dilapisi koran menjadi kemasan yang menggoda pertanyaan. ada apa didalam bungkus tidak menarik itu?  sego kucing memang tidak untuk anda yang sedang ingin makan. bukan anda yang sedang ingin menghilangkan lapar, tapi bagi anda yang ingin menikmati. menikmati kesederhanaan dan ketiadaan. Kecil memang, cukup untuk sekali telan. Namun punya filosofi besar dibalik bentuknya.

ngopi

bungkus itu tertata rapi, meskipun harganya murah, bukan murahan. dengan bungkus yang tertata rapi itu, sang pembuat bersungguh-sungguh tidak asal membungkus. dalam membuat racikan sego khas kota jogja. bukan dari ukuran dan harga, tapi dari hati yang di tuangkan ke dalam makanan itu. meskipun itu tidak menarik, dan akan berakhir di tumpukan sampah. sang bungkus rela terbuang asalkan, apa yang mereka lindungi itu selamat. karena itulah tugas yang harus mereka laksanakan.

ada banyak makna didalamnya. hidup itu harus teratur. makan tidak tergesa-gesa, sedikit demi sedikit, alon-alon, ora kesusu. menikmati tiap butir nasi yang masuk ke mulut. merenung, bagaimana proses yang begitu panjang dan rumit itu harus dilewati oleh sebutir beras untuk sampai di depan anda. bahwasanya meskipun kecil dia juga mendapat hak untuk diperlakukan yang sama baiknya. bahwa meskipun kecil, tapi anda rela mengambil dan menikmatinya.

bahwasanya proses itu membutuhkan kesabaran serta waktu.

bukan pada hasilnya, tapi pada prosesnya. karena sego kucing tidak untuk dimakan, tapi untuk dinikmati. sambal dan ikan asinnya merupakan paduan yang sempurna, meskipun hanya terdiri dari sambal dan ikan asin terasa sungguh nikmat, entah apa bumbu rahasia yang mereka masukkan. Menurut akal pikiran kita ikan asin yang dipandang sebelah matapun terasa nikmat jika kita mau bersyukur dan bersungguh-sungguh menikmatinya. begitulah adanya sego kucing.

ia tidak disajikan dengan piring, sendok garpu, meja makan, lilin, atau pelayan. hanya disajikan dengan gorengan alakadarnya, dengan terpal sebagai tempat duduknya. sego kucing hanyalah sego kucing. dengan lampu minyak alakadarnya, bukan lampu listrik terang benderang, temaram memberikan kita kesempatan untuk beristirahat, sendiri, beristirahat melepas penat dari gemerlapnya dunia ini. hidup ini indah tidak hanya siang tapi juga malam. dan mungkin suana gelap temaram itulah yang menyihir para penikmatnya. suasana yang memungkinkan anda untuk merenung, tidak terganggu dengan gemerlap, memberikan anda ruang sunyi, memberi anda privasi.

terpal tertutup, hidup itu bukan untuk ingin dilihat., siapa kita, apa jabatan kita.  siapa pun anda, orang tidak akan tahu, entah presiden, artis, atau hanya seorang gembel jalanan. anda akan duduk sama rata, siapapun anda. dengan menu sama, rasa sama, pelayanan sama, harga sama. tapi tidak dengan apa yang anda renungkan dalam sego kucing itu. bukan dalam mall, tapi trotoar ia tidak memberi apa yang anda inginkan. ia yang mendekat kepada anda, bukan anda yang mendekat kepada anda. tersembunyi di pinggir jalan, agar kita berkenan mampir sejenak untuk menikmati kesederhanaan yang ditawarkan.

didalam bungkusan nasi itu pula, banyak nyawa dan harapan bergantung. harapan dan nyawa yang dipilih oleh pembuat sebagai penyambung hidup, di tengah maraknya nasi dari negeri antah berantah, yang menjajah perut. dengan alasan gengsi, dan status sosial. sego itu merupakan opsi yang mereka pilih dibandingkan opsi berputus asa, mengemis, merampok. Harapan itu tertuang tiap bungkus.  harapan besok akan lebih banyak sego yang mereka buat, dan semakin banyak pula kesempatan mereka untuk menyambung hidup, dan bermimpi.

sego kucing, tetaplah sego kucing, dengan segala kesederhanaannya, dan anda sendirilah yang mencari kerumitan makna di balik sederhananya. serta kearifannya tentang hidup,perjuangan,dan kesederhanaan.

nasi ini mahal, sungguh mahal. mahal atas apa yang mereka ajarkan kepadaku.

–malang, tengah wengi. 00:50 22 sep 2011.sambil menikmati segokucing, dan segelas teh susu hangat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s