opini.

saya lupa berdoa

siang hari itu saya berbincang di bangku belakang dengan rekan saya ketika ujian kompetensi pedagogy. dan mahasiswa semester 3 sebagai siswa yang seolah kita ajari. dan pada suatu ketika teman kami maju satu persatu untuk melakukan simulasi mengajar. sebelum memulai penjelasan, selalu dimulai dengan doa terlebih dahulu dan diakhiri dengan doa.

entah karena diawasi, akan di evaluasi atau tidak, saya tidak tahu. semoga tidak.

pun ketika saya maju kedepan, celakanya saya hampir lupa untuk berdoa terlebih dahulu, entah karena gugup atau grogi. dan untung saja teman saya memberikan isyarat untuk berdoa. sial, saya lupa!

 

berdoa

ya, doa sebelum memulai pelajaran, waktu perkuliahan.

(more…)

Advertisements

sholat di kolong mal

tulisan saya yang lama, reblog.

entah untuk yang keberapa kalinya saya berkunjung di tempat yang seperti ini.dan diantara semua kunjungan ke tempat yang mirip dan diserupakan dengan tempat ini saya mempunya benang merah.bukan karena saya pernah membaca sebuah tulisan yang mirip seperti ini dan berusaha menyambung-menyambungnya.

ah sudahlah, setidaknya tulisan yang saya tulis ini bermanfaat untuk saya sendiri.sepertinya keluh kesah saya cukup bodoh. bisa dibilang mencari gula di tengah ladang garam.

tower

menara masjid raya sidoarjo

saya selalu kesulitan setiap kali saya hendak mencari sebuah tempat untuk menunaikan tugas saya sebagai manusia. shalat. dari beberapa tempat yang saya kunjungi, kebanyakan (meskipun ada beberapa yang tidak termasuk) terpencil, di sembunyikan dan tidak dianggap. pengap, kecil, antri dan tidak manusiawi. cukup ironis mungkin, diantara kemegahan bangunan bertingkat, baru, mewah dan gemerlap itu. justru tempat penting itu harus “eksis” dengan seadanya.

senja di atas masjid

terpojok di antara parkiran mobil, sempit dan pengap, dan alhamdulilah nya/untung nya. tempat itu masih ada, meskipun kebanyakan memprihatinkan. apa repotnya membuat tempat itu sedikit lebih layak, dengan mengambil beberapa meter persegi bagian luas dari mall tersebut . mungkin karena tempat tersebut tidak mendatangkan keuntungan, dibandingkan dengan tempat parkir, stand-stand, atau gerai yang menjadi inti mall tersebut. sehingga tempat tersebut adalah hal sekian yang terpikirkan ketika mereka membangun mall tersebut. nantilah kalau ada ruang kosong yang tersedia. dan itu di sempilkan di antara mobil.

mungkin juga tempat tersebut, di anggap sebagai sesuatu yang asing, musuh laten yang harus disingkirkan ketika orang diharapkan untuk melupakan akal sehatnya saat masuk mall?ketika orang dikondisikan untuk lupa dengan waktu, keadaan, dan kesadarannya menikmati kemegahan dunia dengan gemerlapnya. mungkin bukan saya saja yang merasakan hal tersebut, tapi entah mengapa semua seolah-olah diam. toh itu juga buat anda sekalian atau mungkin kita sepakat untuk membedakan urusan dunia dunia dengan urusan akhirat, baik dalam bentuk, pikiran, tempat, hingga tingkah laku kita? atau saya sendiri yang punya persepsi salah, punya persepsi yang terlalu sensitif berbeda dengan orang lain?

tidak harus besar, dingin, mewah dan penting. tapi setidaknya mereka sadar, mereka mendirikan bangunan di tengah negara dengan penduduk Islam terbesar.

saya lebih senang shalat di masjid kampung-kampung. rumah orang-orang kampung bisa dibilang sederhana.namun masjid kampung mereka lebih mewah dibandingkan dengan rumah mereka. cinta mereka kepada tuhan tidak sesederhana rumah mereka.

 

saya gila

gila

 

2. sakit ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal): ia menjadi — krn menderita tekanan batin yg sangat berat; 2 a tidak biasa; tidak sebagaimana mestinya; berbuat yg bukan-bukan (tidak masuk akal): benar-benar —

 

sebuah cap yang dilekatkan orang yang konon katanya “beradab” kepada orang yang menurut orang beradab itu tidak beradab.

orang yang merasa waras, yang menganggap orang lain tidak waras. sebuah cap, sebuah identitas yang meniadakan sedikit kewarasan mereka.

 

seringkali kita terlalu mudah meng-gila-kan seseorang. karena mereka tidak sesuai dengan apa yang kita akui sebagai standar kewarasan. gila karena tidak sesuai apa yang kita lihat, kita pikirkan, menurut kebiasaan akal sehat kita. karena mereka tidak berlaku, tidak berpikir, tidak berpakaian, tidak berbicara dan lain sebagainya, seperti yang kita lakukan sehari-hari.( yang kita anggap normal, wajar)

 

sebuah definisi sepihak yang di buat oleh orang waras.

 

 

waras.

 

 

seringkali  (yang merasa waras) sengaja meng-gila-kan mereka dengan berbagai cara. banyak dari kita memasung orang gila, merantai orang yang kita anggap tidak semestinya, mengisolasinya, menyingkirkan dan entah apa namanya. sebuah perilaku kita anggap wajar, biasa yang kita lakukan kepada orang kita anggap tidak biasa. bukankah seharusnya kita bisa bersikap lebih waras kepada mereka?

 

seringkali (yang merasa waras) melakukan apa yang tidak dilakukan orang gila. karena orang waras punya alasan, kita punya otak waras, orang waras punya nafsu untuk menghalalkan segala cara, melakukan hal gila untuk memiliki apa yang orang waras inginkan. melanggar hal kewarasan untuk gila (dan orang waras menganggap hal itu biasa, karena dilakukan oleh orang waras).

 

bukankah orang yang tidak waras itu, sebelumnya juga waras? karena ulah orang waras, mereka menjadi tidak waras.

benarkan orang gila itu yang kita singkirkan? apakah tidak sebaliknya. bukankan kita sendiri yang menyingkir dari mereka?

pernahkan orang gila, meng-gilakan orang waras? pernahkah orang gila protes kepada orang waras karena mereka di-gilakan?

orang waras melakukan hal waras karena mereka waras, orang gila melakukan hal gila karena mereka gila.

 

bisa jadi orang waras itu tidak waras menurut pemikiran orang gila.

karena orang gila adalah waras dalam standar kegilaan mereka.

 

siapa saya? mereka memanggil saya gila.

ya… saya gila

 

17-11-12

sego kucing

dinginnya malam kota malang tak sedingin hatiku malam ini, entah rasa apa yang tengah berkecamuk meledakkan hatiku. ketika saya mencari sebuah penawar ledakan hatiku, tampak sebuah gerobak dorong dengan terpal biru tampak di pinggir jalan. hanya dengan temaram lampu minyak. sederhana. gelap. tidak menarik, tersembunyi.  orang biasa menyebutnya angkringan. sebuah tempat yang tidak menawarkan kemewahan apapun kepada siapa saja yang berkunjung.

dan hanya mereka yang mau menanggalkan kemewahan yang sudi berkunjung. dan bagi mereka yang muak kepada cahaya gemerlap lampu kemewahan. karena tidak ada sesuatu yang spesial yang ditwarkan kepada anda. mungkin karena ketidak-adaannya itulah angkringan menjadi ada. karena sederhana itulah angkringan menjadi tidak sederhana.

sego kucing, entah kenapa di sebut sego kucing. karena porsinya? karena lauknya? atau karena yang makan? entahlah, tidak penting. sebuah bungkus kecil dengan bngkus daun pisang, dilapisi koran menjadi kemasan yang menggoda pertanyaan. ada apa didalam bungkus tidak menarik itu?  sego kucing memang tidak untuk anda yang sedang ingin makan. bukan anda yang sedang ingin menghilangkan lapar, tapi bagi anda yang ingin menikmati. menikmati kesederhanaan dan ketiadaan. Kecil memang, cukup untuk sekali telan. Namun punya filosofi besar dibalik bentuknya.

ngopi

bungkus itu tertata rapi, meskipun harganya murah, bukan murahan. dengan bungkus yang tertata rapi itu, sang pembuat bersungguh-sungguh tidak asal membungkus. dalam membuat racikan sego khas kota jogja. bukan dari ukuran dan harga, tapi dari hati yang di tuangkan ke dalam makanan itu. meskipun itu tidak menarik, dan akan berakhir di tumpukan sampah. sang bungkus rela terbuang asalkan, apa yang mereka lindungi itu selamat. karena itulah tugas yang harus mereka laksanakan.

ada banyak makna didalamnya. hidup itu harus teratur. makan tidak tergesa-gesa, sedikit demi sedikit, alon-alon, ora kesusu. menikmati tiap butir nasi yang masuk ke mulut. merenung, bagaimana proses yang begitu panjang dan rumit itu harus dilewati oleh sebutir beras untuk sampai di depan anda. bahwasanya meskipun kecil dia juga mendapat hak untuk diperlakukan yang sama baiknya. bahwa meskipun kecil, tapi anda rela mengambil dan menikmatinya.

bahwasanya proses itu membutuhkan kesabaran serta waktu.

bukan pada hasilnya, tapi pada prosesnya. karena sego kucing tidak untuk dimakan, tapi untuk dinikmati. sambal dan ikan asinnya merupakan paduan yang sempurna, meskipun hanya terdiri dari sambal dan ikan asin terasa sungguh nikmat, entah apa bumbu rahasia yang mereka masukkan. Menurut akal pikiran kita ikan asin yang dipandang sebelah matapun terasa nikmat jika kita mau bersyukur dan bersungguh-sungguh menikmatinya. begitulah adanya sego kucing.

ia tidak disajikan dengan piring, sendok garpu, meja makan, lilin, atau pelayan. hanya disajikan dengan gorengan alakadarnya, dengan terpal sebagai tempat duduknya. sego kucing hanyalah sego kucing. dengan lampu minyak alakadarnya, bukan lampu listrik terang benderang, temaram memberikan kita kesempatan untuk beristirahat, sendiri, beristirahat melepas penat dari gemerlapnya dunia ini. hidup ini indah tidak hanya siang tapi juga malam. dan mungkin suana gelap temaram itulah yang menyihir para penikmatnya. suasana yang memungkinkan anda untuk merenung, tidak terganggu dengan gemerlap, memberikan anda ruang sunyi, memberi anda privasi.

terpal tertutup, hidup itu bukan untuk ingin dilihat., siapa kita, apa jabatan kita.  siapa pun anda, orang tidak akan tahu, entah presiden, artis, atau hanya seorang gembel jalanan. anda akan duduk sama rata, siapapun anda. dengan menu sama, rasa sama, pelayanan sama, harga sama. tapi tidak dengan apa yang anda renungkan dalam sego kucing itu. bukan dalam mall, tapi trotoar ia tidak memberi apa yang anda inginkan. ia yang mendekat kepada anda, bukan anda yang mendekat kepada anda. tersembunyi di pinggir jalan, agar kita berkenan mampir sejenak untuk menikmati kesederhanaan yang ditawarkan.

didalam bungkusan nasi itu pula, banyak nyawa dan harapan bergantung. harapan dan nyawa yang dipilih oleh pembuat sebagai penyambung hidup, di tengah maraknya nasi dari negeri antah berantah, yang menjajah perut. dengan alasan gengsi, dan status sosial. sego itu merupakan opsi yang mereka pilih dibandingkan opsi berputus asa, mengemis, merampok. Harapan itu tertuang tiap bungkus.  harapan besok akan lebih banyak sego yang mereka buat, dan semakin banyak pula kesempatan mereka untuk menyambung hidup, dan bermimpi.

sego kucing, tetaplah sego kucing, dengan segala kesederhanaannya, dan anda sendirilah yang mencari kerumitan makna di balik sederhananya. serta kearifannya tentang hidup,perjuangan,dan kesederhanaan.

nasi ini mahal, sungguh mahal. mahal atas apa yang mereka ajarkan kepadaku.

–malang, tengah wengi. 00:50 22 sep 2011.sambil menikmati segokucing, dan segelas teh susu hangat.

masjid

Masjid yang merupakan ruang dan waktu adalah tempat ibadah untuk melaksanakan kewajiban sebagai manusia yang memilih beragama Islam, kepada tuhan yang mereka menyebutnya sebagai Allah. Ruang dan waktu khusus untuk melaksanakan kewajiban/ibadah yang diharuskan oleh agama/kepercayaan apapun kepada para pemeluknya. beberapa ibadah memerlukan sebuah ruang khusus dan waktu tertentu untuk bisa dilaksanakan dengan baik dan benar.

bandung great mosque

masjid Raya Bandung

bisa pula ‘masjid’ itu berwujud gereja, wihara, klenteng, kuburan keramat dan yang lainnya. Serta pengunjungnya atau bisa disebut pemeluk di-label-i dengan nama yang berbeda, Kristen, Budha, Konghucu atau Kejawen untuk mencegah kerancuan karena tidak ada pembeda antara satu dengan lainnya. dan begitu pula dengan bentuk arsitekturnya, bentuk pakaian, bentuk gerakan, pemilihan nama, hingga pemikiran semua identifikasi pembeda itu harus di cantumkan dalam sebuah identititas tanda pengenal pada setiap orang.

lalu bukankah Tuhan tidak memerlukan tempat dan waktu untuk keberadaannya, manusialah yang memerlukan waktu dan tempat yang terikat untuk diri mereka. bukan untuk Allah, karena Allah tidak terikat oleh segala bentuk pemikiran hasil manusia.